Kendari – Dalam upaya mengembangkan jiwa kompetitif sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya lokal, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Kendari menyelenggarakan Festival Olahraga dan Seni Budaya Mahasiswa 2026 yang berlangsung meriah di lapangan olahraga kampus, Jalan Sultan Hasanuddin, Kendari, pada hari Selasa hingga Kamis, 14-16 April 2026. Acara yang menjadi yang terbesar dalam sejarah Pascasarjana ini melibatkan lebih dari 500 mahasiswa dari berbagai program studi dan menghadirkan total hadiah mencapai 150 juta rupiah.
Festival tahunan yang dirayakan sebagai bagian dari Dies Natalis Universitas Muhammadiyah Kendari ini menawarkan beragam kompetisi mulai dari cabang olahraga modern hingga pertunjukan seni tradisional Sulawesi Tenggara. Penyelenggaraan acara ini mencerminkan komitmen pimpinan kampus dalam mewujudkan mahasiswa pascasarjana yang tidak hanya unggul secara akademik, namun juga sehat, cerdas, dan berjiwa seni.
“Kami percaya bahwa pengembangan mahasiswa pascasarjana tidak hanya terbatas pada aspek intelektual melalui penyelesaian tesis atau disertasi,” ungkap Prof. Dr. H. Edi Suardi, M.Si., Ketua Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Kendari saat membuka acara festival pada Selasa (15/4) pagi. “Festival ini dirancang untuk memberikan wadah bagi mahasiswa mengaktualisasikan diri, membangun karakter tangguh, serta menjalin silaturahmi yang lebih erat di antara sesama akademisi. Kami juga ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa generasi intelektual muda kami adalah individu yang holistik dan dinamis.”
Pelaksanaan festival yang berlangsung selama tiga hari penuh ini mengusung tema “Pascasarjana Berkarakter: Berprestasi, Berkompetisi, Berbudaya,” yang sejalan dengan visi Universitas Muhammadiyah Kendari sebagai lembaga pendidikan tinggi yang menghasilkan lulusan berkualitas dan berakhlak mulia.
Cabang Olahraga yang Dipertandingkan
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan tahun ini menampilkan spektrum cabang olahraga yang lebih luas. Selain cabang olahraga konvensional seperti futsal, bola voli, dan badminton, panitia juga menghadirkan cabang olahraga modern seperti e-sports dengan kategori mobile legends dan valorant, yang merespons antusiasme mahasiswa milenial dan generasi Z terhadap kompetisi digital.
“Kehadiran e-sports dalam festival ini bukan tanpa alasan,” jelas Darmawan, S.Pd., M.Or., Koordinator Bidang Olahraga Pascasarjana. “Kami ingin menjangkau mahasiswa yang mungkin tidak memiliki latar belakang olahraga tradisional, tetapi memiliki passion tinggi dalam bidang gaming kompetitif. E-sports saat ini telah diakui secara internasional dan sudah masuk dalam ajang multi-sport events. Dengan memasukkannya, kami memberikan apresiasi terhadap keberagaman talenta mahasiswa,” sambung Darmawan dalam wawancara eksklusif di kantor Program Pascasarjana pada Rabu (15/4) siang.
Dari aspek olahraga tradisional, festival ini menawarkan pertandingan futsal putra dan putri dengan kategori open (terbuka untuk semua program studi) dan kategori by-program (pertandingan internal per program studi). Turnamen futsal putra yang diikuti oleh 12 tim berhasil sampai ke semifinal dengan persaingan yang sangat sengit. Dalam babak penyisihan grup, tim Program Studi Magister Manajemen berhasil mengungguli Program Studi Magister Pendidikan dengan skor 3-2 yang dramatis setelah melalui pertambahan waktu.
Sementara itu, cabang bola voli putri juga memperlihatkan antusiasme tinggi dengan keikutsertaan 8 tim. Dalam pertandingan persahabatan di hari pertama, tim dari Program Studi Magister Ilmu Hukum berhasil mengalahkan tim Magister Teknik dengan set score 25-18, 25-22, yang menunjukkan koordinasi kerja sama tim yang baik.
Cabang olahraga lainnya yang tidak kalah sengit adalah badminton dengan kategori tunggal putra, tunggal putri, dan ganda campuran. Hampir 50 peserta mendaftar untuk cabang ini, membuktikan tingginya minat mahasiswa pascasarjana terhadap olahraga yang membutuhkan ketangkasan dan fokus mental ini.
“Badminton adalah olahraga yang menuntut kombinasi kekuatan fisik dan kecerdasan taktis,” kata Bambang Herianto, M.Kom., peserta dari Program Studi Magister Ilmu Komputer yang berhasil menjadi runner-up kategori tunggal putra. “Saya senang festival ini mengakomodasi berbagai cabang karena setiap mahasiswa memiliki minat berbeda. Ada yang lebih suka olahraga tim, ada yang suka individual. Hal ini memberikan kesempatan yang adil bagi semua untuk berprestasi.”
Persembahan Seni Budaya yang Menawan
Selain aspek olahraga, dimensi seni dan budaya menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan festival ini. Pada malam hari kedua festival (15 April 2026), Panitia Pengadaan Seni menghadirkan pertunjukan yang menampilkan kekayaan budaya Sulawesi Tenggara.
Program acara malam seni dimulai dengan pertunjukan tarian tradisional “Zapin” yang dipersembahkan oleh kelompok mahasiswa dari Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam. Tarian yang mempunyai akar historis dari budaya Arab namun telah menjadi bagian dari identitas budaya Sulawesi Tenggara ini ditampilkan dengan gerakan yang dinamis dan kostum yang autentik.
Setelah itu, panggung diisi oleh persembahan musik tradisional dengan alat-alat musik lokal seperti gendang dan suling bambu yang dimainkan oleh mahasiswa dari Program Studi Magister Seni Budaya. Pertunjukan ini menciptakan suasana yang menenangkan dan membawa penonton kembali ke akar identitas budaya lokal.
“Kami berusaha untuk tidak melupakan warisan budaya kita di tengah arus globalisasi yang begitu kencang,” ujar Sitti Nur Amaliah, S.S., M.Hum., Ketua Program Studi Magister Seni Budaya. “Festival ini adalah platform yang tepat untuk mengingatkan mahasiswa, khususnya mereka yang berasal dari daerah lain, bahwa Sulawesi Tenggara memiliki tradisi seni yang kaya dan patut dilestarikan. Kami juga melibatkan mahasiswa dalam pembelajaran praktis tentang seni, bukan hanya teori semata.”
Puncak dari malam seni ini adalah penampilan “Kabasaran,” tarian tradisional Sulawesi Tenggara yang dipersembahkan oleh 40 mahasiswa dalam formasi yang terstruktur rapi. Tarian yang menggambarkan nilai-nilai keberanian dan kekuatan ini mendapatkan standing ovation dari ratusan penonton yang memenuhi area outdoor kampus.
Selain pertunjukan seni, festival juga mengadakan kompetisi seni yang meliputi kategori puisi, prosa kreatif, fotografi, dan desain grafis. Tingkat partisipasi dalam kompetisi seni ini menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, dengan total 120 karya masuk untuk semua kategori.
Dalam kategori fotografi, peserta diberi tema “Mahasiswa Pascasarjana dalam Kehidupan Sehari-hari,” yang menghasilkan karya-karya dokumenter yang menarik dan penuh makna. Pemenang pertama dalam kategori ini, Eka Prasetyo, M.Fot., mahasiswa Program Studi Magister Fotografi Jurnalistik, berhasil mengabadikan momen seorang mahasiswa yang sedang membaca buku di perpustakaan kampus dengan pencahayaan dramatis yang menciptakan dimensi emosional yang kuat.
“Fotografi bagi saya adalah cara untuk bercerita tanpa kata-kata,” kata Eka saat menerima penghargaan di hari ketiga festival. “Festival ini memberikan saya kesempatan untuk memamerkan karya saya di hadapan komunitas akademik yang lebih luas. Apresiasi dari sesama mahasiswa dan dosen sangat memotivasi saya untuk terus mengembangkan kemampuan.”
Dampak dan Manfaat Bagi Pengembangan Mahasiswa
Secara keseluruhan, penyelenggaraan Festival Olahraga dan Seni Budaya Mahasiswa Pascasarjana 2026 ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi pengembangan karakter dan kompetensi soft skill mahasiswa. Dari perspektif manajemen acara, keberhasilan festival ini menunjukkan bahwa Universitas Muhammadiyah Kendari memiliki kapasitas untuk menyelenggarakan event skala besar dengan standar profesional.
Dr. H. Hasaruddin, M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam kesempatan penutupan festival pada Kamis sore (16/4), menyatakan apresiasi tinggi terhadap pencapaian ini. “Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Kendari telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menyelenggarakan festival yang komprehensif ini. Bukan hanya dari sisi kuantitas peserta, tetapi juga kualitas penyelenggaraan yang terlihat profesional. Ini mencerminkan komitmen kami untuk mengembangkan mahasiswa pascasarjana yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat jasmani dan memiliki apresiasi terhadap seni budaya,” kata Rektor Hasaruddin.
Dari segi psikologis, festival ini memberikan efek positif dalam membangun sense of community di antara mahasiswa pascasarjana yang secara rata-rata berusia lebih dewasa dan memiliki tanggung jawab pekerjaan sampingan. Banyak mahasiswa yang mengakui bahwa kompetisi ini memberikan mereka kesempatan untuk break dari rutinitas akademik dan pekerjaan.
Siti Nurhaliza, M.M., mahasiswa Program Studi Magister Manajemen yang memenangkan kategori tunggal putri badminton, berbagi pengalamannya: “Sebagai mahasiswa pascasarjana yang bekerja penuh waktu, saya jarang memiliki waktu untuk berolahraga secara konsisten. Festival ini memotivasi saya untuk kembali aktif bergerak. Selain itu, pertemuan dengan mahasiswa dari program studi lain membuka wawasan saya tentang riset dan topik yang mereka kerjakan. Ini adalah bentuk kolaborasi informal yang sangat berharga.”
Tantangan dan Perencanaan Ke Depan
Meski festival berjalan dengan lancar, Panitia Pelaksana juga mengidentifikasi beberapa tantangan operasional yang dialami. Salah satunya adalah keterbatasan infrastruktur lapangan olahraga untuk menampung semua cabang secara bersamaan. Panitia akhirnya menggunakan beberapa area alternatif dan melakukan penjadwalan yang cermat untuk mengoptimalkan penggunaan fasilitas yang ada.
“Kami belajar dari pengalaman ini bahwa untuk tahun depan, kami perlu merencanakan dengan lebih matang terkait kebutuhan infrastruktur,” ungkap Bambang Suprayitno, S.Sos., M.Si., Ketua Panitia Festival 2026. “Salah satu rekomendasi yang akan kami ajukan kepada rektorat adalah pembangunan lapangan olahraga indoor yang dapat digunakan untuk berbagai cabang. Ini akan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan acara serupa di masa depan.”
Panitia juga merencanakan untuk terus meningkatkan dimensi internasional festival dengan mengundang mahasiswa dari universitas mitra di luar negeri untuk tahun-tahun mendatang. Hal ini sejalan dengan upaya Universitas Muhammadiyah Kendari dalam memperkuat positioning sebagai universitas dengan standar internasional.
Penutup
Festival Olahraga dan Seni Budaya Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Kendari 2026 telah membuktikan bahwa pengembangan mahasiswa pascasarjana tidak hanya berfokus pada aspek akademik semata. Melalui wadah yang tepat, mahasiswa dapat menunjukkan potensi diri mereka secara holistik, mulai dari keterampilan olahraga, apresiasi seni, hingga kemampuan berkompetisi dalam lingkungan yang sehat dan profesional.
Keberhasilan penyelenggaraan festival ini juga menunjukkan bahwa Universitas Muhammadiyah Kendari, khususnya Program Pascasarjana, memiliki visi jangka panjang dalam membentuk lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga seimbang dalam pengembangan karakter dan potensi diri.
Dengan semangat yang sama, diharapkan festival ini dapat menjadi tradisi tahunan yang terus berkembang, memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan mahasiswa dan penguatan identitas akademis Universitas Muhammadiyah Kendari di tingkat regional maupun nasional.